Thursday, 28 August 2008

Tanyakan saja kepada Sang KESIBUKAN.

Busy_looking_busy1

Apakah "Maaf, aku sibuk banget" sebuah kehebatan?
Apakah "Maaf, aku sibuk banget" sebuah kebanggaan?
Apakah "Maaf, aku sibuk banget" sebuah kebahagiaan?
Apakah "Maaf, aku sibuk banget" sebuah permakluman?
atau,
hanya sebuah alasan untuk menutupi kepentingan diri-sendiri? 
atau mungkin,
hanya sebuah keengganan memberikan waktu untuk orang lain?

Tanyaken kenapa?

                            

Friday, 08 August 2008

Tidak ada judul

rindu justru membuatnya sakit,

ikhlaskan dia tidak mengenaliku lagi...

Saturday, 02 August 2008

Perjumpaan dengan Syeikh DR. 'Aidh Abdullah Al-Qarni

Aidhabd Alhamdulillah hari ini saya masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk posting sekali lagi. Posting kali ini adalah seputar kebahagian saya atas perjumpaan saya dengan salah seorang ulama Saudi dalam sebuah acara kunjungan ulama-ulama Saudi Arabia ke Indonesia. Acara yang diprakarsai oleh majalah Qiblati ini dijadwalkan dalam rangka kunjungan dan muhadharah dari tanggal 24 - 29 Juli 2008 di kota Batu, Malang, Pandaan dan Bangil.
Beliau-beliau para ulama yang berkesempatan datang adalah Syeikh DR. 'Aidh Abdullah Al-Qarni, Syeikh Dr. Abdurrahman Al Qossos, Syeikh Mamduh al Buhairi, dan Syeih Ali Mullah (Semoga Allah SWT merahmati atas beliau-beliau dan kita semua).

Tanggal 24 Juli 2008 ba'da magrib di Masjid AR. Fachrudin, depan kampus Unmuh Malang adalah jadwal Syeikh DR. 'Aidh Abdullah Al-Qarni untuk memberikan muhadharah di masjid ini. Alhamdulillah saya diberi kelonggaran Allah SWT untuk hadir. Selepas sholat magrib berjamaah, panitia dan para jama'ah bersiap diri untuk mendengarkan khotbah dan nasehat-nasehat dari beliau. Beliau duduk di kursi sebelah kanan berdampingan dengan kursi al-ustadz yang akan bertugas menterjemahkan bahasa arab beliau. Kebetulan saya duduk di sisi kanan masjid bersama jama'ah lainnya. Kesan pertama saat melihat beliau adalah beliau mengesankan orang yang sangat serius, sangat kaku dan bersungguh-sungguh dalam berdakwah. Mempunyai sorot mata tajam dan hidung mancung dengan raut muka khas bangsa arab. Kesan yang mendalam adalah kesan wibawa dan kesungguhan beliau dalam bertutur kata mendakwahi semua yang ada di masjid. Sorot mata yang tajam dan kesan serius terasa sangat mendalam. Terus terang perihal kesan terhadap beliau, cuma satu yang ada dalam pikiranku : bilakah beliau tersenyum? Namun untuk sementara pikiran itu terkesampingkan untuk mendengarkan khutbah yang disampaikan beliau.

Pada kesempatan yang sangat singkat itu (sekitar 1,5 jam, masih dipotong sholat isya berjamaah) beliau menyampaikan tentang hal yang paling prinsip dan utama bagi kaum muslimin, yaitu tentang Tauhid. Beliau juga menjelaskannya perihal dalil dan syarat diterimanya tauhid. Sungguh mendalam keilmuan beliau. Inilah yang membuatku terkesan dan mencintai para ulama, karena beliau-beliaulah yang merupakan para pewaris Rasulullah SAW.

Tidak terasa, waktu berjalan hingga berakhirnya khotbah beliau. Setelah ditutup dengan doa majlis, saya yang berada diantara para jema'ah bersama-sama mendekati beliau untuk berjabat tangan dan memberi salam. Pada saat saya tepat berada di hadapannya, beliau tersenyum dan lebih dahulu mengucapkan salam kepadaku. Senyumnya renyah dan terlihat alami, seketika itu juga mampu meruntuhkan kesan kaku, bahkan terlihat beliau adalah orang yang sangat ramah. Sorot matanya berubah bersahabat. Aroma wewangian yang segar mulai tercium saat saya mendekat ke badan beliau. Kami  berjabat tangan dan saling berpelukan. Senang rasanya bisa bertatap muka langsung. Sejurus kemudian saya mengucapkan salam untuk berpamitan.

Begitulah alkisah perjumpaan saya yang pertama dengan beliau. Di lain waktu, tanggal 29 Juli 2008 di Mesjid Al Ikhlas, saya kembali berjumpa untuk kedua kalinya. Dan tanggal 27 Juli dengan Syeikh Dr. Abdurrahman Al Qossos ( -menggantikan  Syeih Ali Mullah yang berhalangan hadir karena ada kendala teknis pada pesawat yang mengantar beliau- ) di Masjid Muhajirin, Jl. Bend. Sigura-Gura, Malang. Namun kiranya demikian saja yang saya tulis, untuk sekedar menasehati diri saya sendiri untuk selalu rajin menuntut ilmu dien. Terima kasih telah membaca tulisan ini.

Semoga bermanfaat untuk saudara juga.

End.

Sekilas tentang Syeikh DR. 'Aidh Abdullah Al-Qarni :

Nama lengkap beliau Dr.’Aidh bin ‘Abdullah bin ‘Aidh Al Majdu al-Qarni ini lahir di desa Qarn, Arab Saudi bagian selatan tahun 1379H. Pada tahun 1403/1404H, ia meraih gelar sarjana dari Fakultas Ushuluddin Universitas Imam Muhammad bin Sa’ud al-Islamiyyah, gelar magister dalam bidang hadist ia capai tahun 1408H, sedangkan gelar doktor diperolehnya dari Universitas yang sama pada tahun 1422H.

Di Indonesia beliau juga dikenal dengan salah satu bukunya yang berjudul "La Tahzan" (Jangan Bersedih). Figur yang telah menghasilkan 800 keping kaset keislaman yang berisi khutbah, ceramah, puisi dan seminar ilmiah ini bukan hanya hafal Al-Qur’an. Ia juga hafal Bulugh al-Marham, sekitar lima ribu hadist dan lebih dari 10 ribu bait syair. Buku karangannya meliputi hadist, tafsir, fikih, sastra, sejarah dan biografi.

Keberaniannya menyuarakan kebenaran juga sempat membuatnya merasakan jeruji besi pemerintah Al-Saud. Kesalahannya saat itu, ia dan kawan-kawan ulama mudanya berani berteriak lantang menentang kehadiran pasukan Amerika Serikat di Arab Saudi atas undangan pemerintah Al-Saud.

Wednesday, 11 June 2008

Tidak ada judul...

Ketulusan, perhatian dan kasih sayang, sejatinya adalah saat seseorang tidak lagi menggunakan perasaannya pada seseorang lainnya.

Wednesday, 28 May 2008

hilang...

hilang...